Viral Video Bayi 8 Bulan Tewas Akibat Ditelantarkan RS di Medan

Viral Video Bayi 8 Bulan Tewas Akibat Ditelantarkan RS di Medan

Selaluindah.com – Jakarta – Viral video orangtua bayi yang marah karena anaknya tewas diduga ditelantarkan rumah sakit.

Video tersebut diunggah oleh akun Instagram @medantau.id pada Sabtu (23/3/2019).

View this post on Instagram

Diduga terlalu lambat menangani perawatan medis, seorang bocah akhirnya meninggal dunia di salah satu Rumah sakit di Sidikalang, Kabupaten Dairi Sumatera Utara, orang tua bocah pun protes dan sempat memarahi sejumlah perawat yang ada. – Menurut si pengirim video ,Bayi yang awalnya dibawa hanya demam pada pukul 15.00 namun hingga pukul 23.00 tidak mendapatkan perawatan yang maksimal, lalu pihak rumah sakit menyarankan bayi harus di rujuk ke rumah sakit besar. – Pihak keluarga pun meminta pihak rumah sakit menyediakan ambulance untuk mengantarkan si bayi ke rumah sakit rujukan, namun ambulan baru tiba dua jam setelahnya, nyawa sibayi pun akhirnya tidak bisa diselamatkan. – Mimin ikut berduka atas kejadian ini, mungkin ini sudah jalannya, tapi semoga hal ini menjadi pelajaran untuk semua pihak, termasuk pihak rumah sakit yang seharusnya memberikan pelayanan yang khusus untuk semua pasiennya. – Video kiriman @humor_elites – @humassumut @dinaskesehatanprovinsisumut @ombudsmanrisumut @ombudsmanri137 @bang_parlinpurba – #bocah #meninggal #rumahsakit #pelayananburuk #ombudsman

A post shared by medantau.id (@medantau.id) on

Amelia Putri Karolina br Pinem (8 bulan) merupakan anak dari pasangan Bobby Pinem dan Endang Nababan.

Tampak wanita tersebut sedang menggendong anaknya yang menangis di sebuah rumah sakit di Sidikalang, Dairi, Sumatera Utara.

Sedangkan, seorang pria yang merekam video marah-marah menyalahkan pihak rumah sakit yang memiliki penangan yang buruk.

“Terima kasih Rumah Sakit Sidikalang. Kami emang masyarakat miskin tapi tak miskin hati,” serunya.

Bahkan, pria tersebut juga merekam dan masuk ke dalam ruang perawat di rumah sakit tersebut.

“Terima kasih yang buat kami menderita,” serunya sambil mendatangi satu per satu perawat.

Paman korban, Rikardo Nababan, mengungkapkan anaknya mengalami demam dan mencret tiga hari dan kemudian dibawa ke IGD RSU Sidikalang pada Jumat (22/3/2019).

Setelah diperiksa, seorang dokter mendiagnosa korban mengalami dehidrasi kemudian dipasangi infus, tabung, dan selang oksigen.

Satu jam kemduian, seorang dokter lainnya datang dan memberitahu korban mendeirta sakit infeksi paru-paru yang membuat keluarga kebingungan.

“Kami keluarga dibuat bingung, entah yang mana yang betul. Satu institusi, bisa dua pendapat. Di IGD, dokter membolehkan diberi ASI, sedangkan di ruang rawat tidak,” ujar Ricardo.

Ricardo mengatakan sekitar pukul 22.00 WIB, napas Amelia tersengal-sengal dan kondisinya memburuk hingga disarankan untuk dirujuk.

Ternyata semua rumah sakit di Medan sedang tidak ada dokter anak.

“Setelah menunggu lama, barulah akhirnya ditemukan RS Bina Kasih Medan. Kami diminta untuk menyediakan uang Rp10 juta sebagai panjar,” terangnya.

Saat akan dibawa ke rumah sakit lain, tiga ambulans yang terparkir ternyata semuanya rusak.

“Padahal, sewaktu kami ketahui semua ambulans rumah sakit rusak, kami sudah menawarkan untuk menggunakan mobil kami saja, tetapi mereka (manajemen RSUD Sidikalang) ‘ngotot’ harus pakai ambulans,” sambungnya.

Setelah mencari ambulans ke puskesmas mereka dapat, tetapi saat Amelia diangkat ke ambulans Ricardo merasa ada yang aneh tabung oksigen panas dan bermassa lebih ringan.

“Sempat aku bilang, tabung oksigennya ini sudah habis. Namun petugas menjawab belum dan buru-buru membawa Amelia ke dalam ambulans,” ujarnya.

Amelia sudah tidak bergerak lagi dan tidak ada tarikan napasnya, tetapi petugas medis mengatakan ia masih bernyawa.

Hingga sampai dalam ambulans, petugas medis mengakui tabung oksigen sudah habis dan korban telah meninggal dunia.

“Sebetulnya kami menduga kuat keponakan kami (Amelia) sudah meninggal dunia di ruang rawat Melur. Itulah kelicikan mereka, agar seolah-olah keponakan kami meninggal dunia di dalam perjalanan menuju ke Medan, bukan di RSUD Sidikalang,” ujar Ricardo.

Keluarga tidak menuntut pertanggungjawaban dari RSUD Sidikalang, tetapi hanya ingin mereka mengakui kesalahannya dan meminta maaf.

Facebook Comments