Tak Hanya Modal Cinta, Bocah SD Nikahi Gadis SMK di Sulsel Dengan Rp 56 Juta Sebagai Uang Panaik

Tak Hanya Modal Cinta, Bocah SD Nikahi Gadis SMK di Sulsel Dengan Rp 56 Juta Sebagai Uang Panaik

Selaluindah.com – Bantaeng – Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan kembali membuat heboh dengan pernikahan dini. Kali ini mempelai prianya adalah anak yang baru saja lulus Sekolah Dasar (SD) sementara mempelai wanitanya masih duduk di bangku SMK. mengaku telah lama menjalin hubungan kasih. Hubungan dua sejoli ini pun akhirnya diketahui oleh orangtua mereka masing-masing. Hingga akhirnya orangtua keduanya sepakat untuk menikahkan mereka.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Selaluindah.com, mempelai prianya berinisial RS (13), dia merupakan warga Lannying, Desa Bonto Lojong, Kecamatan Uluere, Kabupaten Bantaeng.

Sementara pasangannya berinisial MA adalah gadis berusia 17 tahun, gadis yang masih duduk di bangku kelas XI SMK itu merupakan warga Loka, Desa Bonto Marannu, Kecamatan Uluere, Bantaeng.

Ayah RS, Salaming mengatakan, untuk menikahkan anak bungsunya dengan gadis pujaan hatinya ia harus merogoh kocek hingga puluhan juta rupiah. Sesuai adat istiadat suku Bugis-Makassar, uang tersebut disebut uang panaik.

“Uang panaiknya lima puluh enam juta lima ratus ribu rupiah (Rp 56,5 juta),” sebut Salaming, Jumat petang, 31 Agustus 2018.

Pesta pernikahan RS dan MA pun dilangsungkan dengan sederhana di kediaman MA pada Kamis, 30 Agustus 2018 atau kemaren lusa.

Lebih jauh Salaming mengungkapkan, bahwa tak hanya anak bungsunya RS yang ia nikahkan di usia muda. Ketiga kakak kandung RS juga sebelumnya dinikahkan di usia yang masih sangat muda.

“Empat anak saya semuanya menikah muda, itu lumrah bagi kami,” ucapnya.

Karena nikah muda sudah jadi hal lumrah, Salaming pun jauh-jauh hari telah mendidik anaknya untuk siap menjadi seorang kepala keluarga. Sejak umur 7 tahun, RS telah diajari ayahnya untuk bertani dan mencari nafkah.

“Kami anggap dia sudah bisa cari nafkah untuk istrinya, dia biasa bawa mobil ke Makassar antar bawang merah, jadi dia jadi petani bawang merah saja,” katanya.

Alasan lainnya, Salaming mengaku khawatir, jika anaknya melakukan hal yang tidak-tidak. Apalagi dirinya sering mendapat informasi anaknya sering menemui kekasihnya diam-diam.

“Adat kita disini sangat kental, saya sering dengar mereka ketemuan, karena biasanya kalau disuruh antar bawang lama baru pulang,” ucap Salaming.

Facebook Comments