Semua Melawan Ahok

semua-melawan-pak-ahok

” Mengapa anda senantiasa membela Ahok? ”
Tanya seorang di kotak pesanku dengan suara sewot. Saya terdiam. Kumatikan rokokku yang tinggal seperempatnya. Kuhirup kopiku serta mulai mengungkap apa yang kupikirkan.

Sesungguhnya kata ” membela Ahok ” itu kurang pas. Sangat sempit saat saya cuma terpaku pada sosok, lantaran sosok itu tak mempresentasikan kebenaran.

Lebih pas bila disebutkan, saya tengah membela satu nilai. Nilai kebhinekaan serta keadilan. Ahok yaitu representasi dari minoritas, baik minoritas etnis serta agama. Namun ia memiliki hak yang sama dalam demokrasi kita… Sama dengan anda, saya, kalian, mereka serta semuanya yang mengakui sebagai umat sebagian besar dengan kebanggaan yang semu serta tidak bermanfaat.

Jadi, mengapa ia tak bisa jadi ” pemimpin ” di negara yang berpedoman persamaan hak serta keharusan sebagai anak bangsa? Tidakkah itu mengkhianati kesepakatan berbarengan yang di bangun oleh beberapa pendiri negara dengan darah mereka?

Dalam kemampuan, Ahok telah memberi bukti kalau ia dapat. Hasil kerjanya dapat diliat dengan terang mulai pengaturan sungai hingga pengangkatan derajat beberapa pekerja yang dahulu tidak terlihat. Bila ia dapat serta memiliki hak yang sama, jadi berikanlah ia peluang yang sama.

Permasalahan tak sukai, cukup hanya tak memilihnya. Bukannya memaksa ia mesti keluar dari persamaan haknya lantaran ia minoritas. Itu dzolim namanya, menyayat kebhinekaan kita jadi luka dalam yang selalu menganga.

Jadi, membela Ahok sesungguhnya buat saya sama juga dengan membela kebhinekaan kita, keadilan kita, nilai-nilai yang sampai kini jadi pondasi basic kehidupan kita dalam bernegara. Ahok cuma pelakunya saja.

Sama dengan saat saya membela Jokowi, bukanlah lantaran sosoknya. Namun lantaran ia yaitu lambang negara yang sah. Demikian halnya saat saya membela ulama yang benar, saya sesungguhnya membela nilai-nilai pewaris Nabi yang sebenarnya.

” Namun kan mereka yang berdemo tengah membela nilai agama mereka yang dinista? “. Kubakar lagi sebatang serta kuhirup kopiku yang telah tinggal ampasnya.

togel567-14

Pertama, agama itu tak lemah hingga butuh dibela. Agama itu suci hingga mustahil nista. Lagian yang disebut nilai agama itu bukanlah agamanya sendiri, namun mutiara didalamnya sebagai pembentukan ahlak. Apakah korupsi itu membela nilai agama atau jadi menista agama? Jelas menista.

Jadi belalah nilai-nilai di dalamnya dengan selalu mengkajinya agar kita jadi manusia yang benar, bukanlah dengan teriak-teriak membanggakannya.

Bila Ahok dikira menista, tunggulah saja ketentuan hukum yang ada. Tak perlu memaksa hukum keluar dari rel-nya. Terima semuanya ketentuan.

Permasalahan senang serta tak senang, itu permasalahan perasaan, tak ada ukurannya…
Ia terdiam, tak tahu mengerti atau tidak.

Lantas, ” Halahhh.. anda syiah, JIL, sok mengajari saya. Tahu apa anda mengenai Islam? ”
Saya tersenyum. Teringat nasehat Imam Ali as, ” menunjukkan kebenaran pada orang bodoh itu gampang. Yang sulit yaitu bikin mereka menerimanya.. ”

Kuhirup kopiku sekali lagi. Cuihhh.. nyatanya cangkirnya telah kujadikan asbak… hahaha…

Facebook Comments