Pengakuan Mengejutkan Eks Simpatisan ISIS. Wanita Hanya Sebagai “Pabrik…”

Pengakuan Mengejutkan Eks Simpatisan ISIS. Wanita Hanya Sebagai "Pabrik..."

Selaluindah.com – Jakarta – Bom bunuh diri di berbagai tempat di Surabaya masih menjadi sorotan publik. Ledakan tersebut mengundang beragam persepsi masyarakat.

Dikutip dari Tribun Jatim, adik kandung Amrozi sekaligus eks anggota teroris dari kelompok Moro Islamic Liberation Front (MILF), Ali Fauzi berpendapat bahwa kelompok di Surabaya berafiliasi dengan Islamic State of Iraq ad Syria (ISIS).

Diketahui, ISIS merupakan gerakan radikalisme yang masih mencoba merongrong keutuhan NKRI. Sudah banyak WNI yang terbuai akan iming-iming yang diberikan ISIS.

Dalam talkshow ‘Rosi’ di Kompas TV, seorang wanita eks simpatisan ISIS, Nurshadrina Khaira Dhania (20) mengamini hal itu dan membeberkan pengalamannya.

Nurshadrina bercerita, mulanya ia tergiur dengan ajakan pamannya, Djoko Wiwoho yang juga simpatisan ISIS. Rasa penasaran besar membuat Nurshadrina mencari tahu soal ISIS.

Ketika melihat video pengakuan simpatisan ISIS, keinginan Nurshadrina untuk berhijrah semakin besar.

Dalam video tersebut Nurshadrina melihat bahwa kesejahteraan simpatisan dijamin sepenuhnya oleh ISIS. Bahkan, kata dia, ISIS berjanji kepada dirinya dan lima anggota keluarganya untuk mengganti semua biaya keberangkatan dan menjamin kehidupannya usai sampai di Suriah.

“Mereka sendiri janji, biaya ke sana (Suriah) akan mereka gantikan. Penggantian utang, ada pekerjaan, gajinya tinggi. Jadi jangan takut kehilangan pekerjaan,” ujar Nurshadrina.

Nurshadrina mengaku sempat dimabuk asmara terhadap kelompok teroris yang dipimpin Abu Bakar Al-Baghdadi itu. Tidak heran jika pada awalnya semua hal buruk mengenai ISIS ia anggap sebagai fitnah tanpa mencari pembenaran yang sesungguhnya.

Kenyataanya, ketika tiba di Suriah pada Agustus 2015, Nurshadrina tidak menemukan kehidupan bahagia di sana. Nurshadrina menuturkan bahwa kaum perempuan yang berasal dari luar Suriah ditempatkan di sebuah asrama kotor yang tidak layak huni. Sementara para pria dipaksa berperang.

Mula-mula, para perempuan didata berdasarkan status pernikahannya, baru ditempatkan secara terpisah di asrama tersebut. Setiap harinya para anggota ISIS mendatangi pimpinan asrama untuk meminta perempuan yang belum menikah atau janda untuk dijadikan istri.

“Mereka datang, ‘saya mau yang ini’, datang pagi-pagi untuk melamar dan sorenya sudah minta jawaban. Secepat itu minta jawaban, harus kawin. Saya secara pribadi fighter ISIS menganggap perempuan hanyalah sebagai ‘pabrik anak’ saja,” tuturnya.

Baru setahun di Suriah, Nurshadrina menyadari bahwa tindakan ISIS sangat jauh berbeda dengan ajaran Islam.

Pada pertengahan Agustus 2017, Nurshadrina beserta 19 mantan simpatisan ISIS berhasil meloloskan diri setelah lebih dari dua tahun tinggal di sana

Facebook Comments