Mengenal “Kampung Poligami” di Sidoarjo

Selaluindah.com – Jakarta – Begitu banyak warga desa yang poligami, sehingga desa di Sidoardjo sampai dijuluki secara berseloroh sebagai ‘desa poligami’,

Seorang perempuan tampak sibuk membuat kopi dan mie instan di sebuah warung yang terletak tak jauh dari ujung jalan Wayo di Desa Kedung Banteng, Tanggulangin Sidoarjo. Sementara di teras dan halaman warung, anak-anak muda tampak duduk-duduk sambil menikmati kopi mereka.

Perempuan berusia 55 tahun, Nur Khotimah, sudah sepuluh tahun terakhir berjualan kopi dan mie instan untuk menghidupi ketiga anaknya. Suaminya menikah lagi dengan perempuan tetangganya, namun Nur tidak bercerai secara resmi melalui pengadilan agama.

“Sudah tidak tinggal serumah,” kata Nur, “Biarkan saja, buat apa dipikirkan”.

Dia mengakui sempat marah ketika suaminya baru menikah, tetapi lebih memilih untuk bangkit menghidupi dirinya dan anak-anaknya sampai mereka kemudian bekerja.

“Kalau dipikirkan malah jadi penyakit,” kata Nur pada wartawan di Jawa Timur, Nur Cholis.

Setelah menikah, suaminya tidak memberikan nafkah lagi. Dalam UU Kekerasan Dalam Rumah Tangga KDRT, tidak memberikan nafkah pada istri merupakan salah satu bentuk kekerasan ekonomi.

Meski sudah berpisah, suaminya sesekali bertandang ke rumahnya untuk menemui anak-anak dan empat cucunya. Nur mengaku tidak terlalu mempedulikannya.

Saat ini, ketiga anaknya menikah muda, yang perempuan menikah setelah lulus SMP dan anak laki-laki dan perempuannya yang lain menikah setelah lulus SMA.

Ketiganya sudah bekerja, sebagai penata rias pengantin, satpam dan buruh pabrik. Dia tak setuju jika anaknya menikah dengan lebih dari satu orang.

Selain dirinya, Nur mengatakan banyak perempuan mengalami nasib yang sama, ketika suami mereka berpoligami.

Asal usul nama jalan

Salah seorang warga Mursidan mengatakan banyaknya warga yang berpoligami membuat kawasan ini dinamakan Jalan Wayo oleh warganya.

Dalam bahasa Indonesia, Wayo artinya bermadu, poligami.

“Bahkan ada salah satu warga yang sampai memiliki tiga istri sekaligus, orangnya kayak penjaga tambak, tapi istrinya sampai tiga,” tutur Mursidan.

Menurut Mursidan, kebanyakan pernikahan poligami itu dilakukan secara siri. Betapa pun, katanya, praktik itu kini sedikit menurun.

Menurut Tohirin, Kepala Desa Kedung Banteng, praktik itu kebanakn terjadi sekitar tahun 80an hingga akhir tahun 90an, dan istri pertama dan keduanya tinggal di kawasan yang sama.

“Cuman beda RT saja,” kata dia.

Namun, Tohirin mengatakan pratik poligami sudah tidak dilakukan oleh generasi yang lebih muda karena laki-laki dan perempuan sudah mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi.

“Kalau sekarang, kebiasaan seperti itu sudah tidak ada lagi, hanya namanya saja yang tetap wayoh,” kata dia.

Nama jalan yang tidak berubah itu, dan banyak yang menduga kawasan ini menyediakan layanan nikah siri. Beberapa kali Tohirin kedatangan tamu tentang nikah siri itu.

“Karena nama itu, dikira desa kami ini menyediakan layanan nikah siri,” tutur dia.

Facebook Comments