Jadi Tren, Plat Motor Thailand Banyak Dijual Bebas di Situs Online

Selaluindah.com – Jakarta – Penggunaan plat nomor berhuruf Thailand di motor seakan menjadi tren saat ini. Penampakan plat Thailand itu terlihat mulai dari Purwokerto, Karawang, hingga Belitung.

Polisi pun kemudian menilang pemotor yang menggunakan plat huruf Thailand tersebut. Salah seorang pemotor yang terciduk di Karawang mengaku kepada polisi memakai plat itu untuk variasi saja.

“Menurut keterangan pemiliknya buat variasi plat nomor. Sudah kita arahkan untuk membawa TNKB (tanda nomor kendaraan bermotor) aslinya untuk dipasang. Itu dibuat dari TNKB yang berada di emperan. Yang biasa buat variasi,” ujar Kapolres Karawang AKBP Ade Ary Syam Indradi.

Selaluindah.com kemudian menelusuri apakah plat itu dijual secara online melalui situs jual-beli, salah satunya di situs bukalapak.com. Plat Thailand tersebut ternyata dijual bebas dengan variasi harga. Mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 300 ribu.

Plat dengan harga Rp 50 ribu memiliki variasi warna, yakni merah, kuning, dan biru. Selain huruf Thailand, terdapat pilihan nomor ‘999’ dan ‘666’.

Ada pula yang menjual plat Thailand tersebut dengan garansi orisinal. Berbeda dengan plat berwarna, plat ini diberi bingkai dengan background pemandangan. Pelat ini dijual seharga Rp 300 ribu.

Selain di Bukalapak, plat Thailand juga dijual di situs Tokopedia. Harganya pun hampir mirip dengan yang dijual di Bukalapak, yakni Rp 50-200 ribu. Variannya juga tak jauh berbeda. Tentunya situs-situs jualan online tak bertanggung jawab terhadap penyalahgunaan plat nomor tersebut.

Padahal penggunaan plat nomor atau tanda nomor kendaraan bermotor (TNKB) sudah ada dalam aturan Pasal 280 Undang-Undang No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Berikut ini bunyinya:

“Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang tidak dipasangi Tanda Nomor Kendaraan Bermotor yang ditetapkan oleh Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).”

Facebook Comments