Fakta Pembunuhan Rika Karina. Dari Hubungan Hingga Obrolan Terakhir Korban Dengan Pelaku Pembunuhan

Fakta Pembunuhan Rika Karina. Dari Hubungan Hingga Obrolan Terakhir Korban Dengan Pelaku Pembunuhan

Selaluindah.com – Medan – Hendri nekat menganiaya Rika hingga tewas di rumahnya. Kemudian, ia membungkus mayat Rika dalam kardus popok bayi dan ditinggalkan di atas motor di Jalan Karya Rakyat, Gang Melati 1, Sei Agul, Medan Barat, Rabu (6/6/2018) dini hari.

Ternyata sebelum peristiwa sadis itu terjadi, Hendri dan Rika merupakan partner dalam bisnis kosmetik, dimana Rika merupakan distributor dan Hendri sebagai reseller.

Awalnya bisnis sampingan ini berjalan dengan mulus hingga transaksi ketujuh yang mengisahkan tragedi pembunuhan sadis ini.

Pelaku merasa sakit hati karena tidak bisa menerima uangnya kembali yang sebelumnya sudah diberikan kepada korban. Diketahui uang pelaku yang sudah diberikan kepada korban adalah sebesar Rp 4.170.000.

Berikut rangkuman fakta seputar kasus pembunuhan Rika Karina yang dikutip dari Selaluindah.com dari berbagai sumber di TKP.

1. Percakapan Terakhir

Rika menelpon Hendri dengan berkata, “Kenapa gak ambil lagi”.

Lalu Hendri menjawab, ”Barang kamu mahal kali”.

Hendri kemudian mengecek harga kosmetik tersebut di Pajak Sambas dan harganya Rp 230 ribu per item.

Kemudian korban menjawab, ”Kamu jangan ambil dulu, aku cek dulu, kamu nanti ambil, ambil dari aku aja”.

Lalu Hendri menjawab, “ Ya udah”.

Keesokan harinya korban menelepon pelaku dan berkata, “Aku kasih harga Rp 230 ribu”.

Kemudian Hendri mengatakan, “Ya sudah aku ambil 17 paket tapi jangan lama-lama ya”.

Lalu korban (Rika) berkata, “Kita jumpa di samping SPBU dekat Plaza Millenium, sambil aku mau ngasih perinciannya”.

Karena Hendri tidak bisa datang, kemudian ia mengabari korban dan berkata, “Hari ini aku tidak bisa, jadi besok saja ya”.

Keesokan harinya, Hendri dan Rika bertemu, setelah memberi rincian barang tersebut, Hendri memberikan uang untuk pemesanan barangnya secara lunas.

Hendri memberikan uangnya Rp 4.170.000 untuk 17 paket pemesanan.

Perjanjian barang akan datang empat hari kemudian.

Namun sudah memasuki waktu 5 hari setelah pertemuan itu, Rika berkata kalau barang masih belum sampai dan Hendri disuruh menunggu empat hari kemudian.

“Janganlah lama kali, tolonglah,” ucap Hendri kepada Rika.

Rika menjawab, “Barangnya overload”.

Lalu dijawab Hendri, “Jangan gitulah, aku minta balik uangku”.

Rika berkata kepada Hendri, ”Gak bisa gitulah kalau dagang mana boleh balik uang”.

Hendri menjawab, “Jangan gitulah tolong diusahakan cepat”.

Dua hari kemudian sekitar sore hari pelaku menelpon Rika dengan berkata, ”Tolong diusahakan cepat”.

Lalu dijawab Rika, ”Macem mana lagi, overload, nanti ada waktu aku singgah ke rumah”.

Pada Selasa (5/6/2018) sekitar pukul 22.10 WIB, korban datang seorang diri ke rumah Hendri dengan mengendarai sepeda motor Honda Scoopy warna putih dengan nomor polisi BK 5875 ABM.

Sampai di depan rumah Hendri, korban menelpon tersangka dengan berkata, ”Aku sudah sampai di depan rumah”

Hendri berkata ” ya” kemudian ia membuka pintu.

Hendri keluar rumah dan menemui Rika dan berkata bahwa korban mau jelaskan.

Rika kemudian masuk ke ruang tamu rumah dan berkata, ”Barangnya overload”.

“Sudah lama sekali, kalau begitu aku minta minta balik duit aja,” ucap Hendri saat berbincang dengan Rika di ruang tamu rumahnya.

“Mana bisa barang yang sudah dibeli itu tidak bisa digantikan uang, namun kalau merk lain bisa,” ucap Rika kepada Hendri.

Hendri tetap tidak mau diganti barang pesanannya dan ia meminta uangnya kembali. Mendengar hal tersebut, Rika tetap bersikeras berkata tidak bisa.

Hendri merasa kesal dan langsung menolak kepala Rika ke belakang dengan tangan kanan.

Tidak hanya itu, pelaku melihat ada pisau di atas meja dan menikami korban hingga tewas.

Hendri kemudian mengepak Rika layaknya sebuah paket barang dan mengikatnya di bangku belakang sepeda motor milik Rika.

2. Hubungan Pelaku dan Korban

Siapa sebenarnya sosok pelaku hingga tega membunuh korban? Benarkah antara korban dan pelaku hanya sebatas hubungan bisnis?

Hendri dan Rika merupakan partner dalam bisnis kosmetik, dimana Rika merupakan distributor dan Hendri reseller salah satu produk makeup.

Awalnya bisnis sampingan ini berjalan dengan mulus hingga transaksi ke tujuh yang mengisahkan tragedi pembunuhan.

Menurut Kanit II Subdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Sumut Kompol Hendra Eko Triyulianto mengatakan saat itu, korban datang ke rumah pelaku di Jalan Platina Perumahan Ivory nomor 1 M. Kecamatan Medan Deli Kelurahan Titi Papan.

Di rumah tersebut, terjadi cekcok mulut yang diduga disebabkan perjanjian jual beli kosmetik.

“Jadi pelaku geram karena barang pesanan kosmetik yang dipesan kepada korban tak kunjung tiba. Sementara korban sampai saat ini belum memberikan barang kosmetik yang sudah di beli dan di bayar oleh pelaku, pembayaran tersebut di lakukan sekitar tanggal 31 Mei 2018 di Milenium Plaza (tempat korban bekerja),” tambahnya.

Berdasarkan hasil lidik dari lapangan ada saksi yang melihat pelaku keluar dari Komplek perumahan tempat tinggalnya dengan mengendarai kendaraan yang bukan miliknya sambil membawa kotak kardus di belakangan jok motornya.

“Kami (polisi) setelah mendapat informasi tersebut dan disesuaikan dengan CCTV yang ditemukan di lapangan, bahwa ciri-ciri pelaku sesuai dengan pelaku yang kami amankan.

Kemudian tim gabungan dari Jatanras Poldasu, Jatanras Polrestabes Medan dan Unit Reskrim Polsek Medan Barat melakukan penggerebekan di kediaman pelaku,” ujarnya, Kamis (7/6/2018).

Dari hasil introgasi, tersangka mengakui perbuatannya. Polisi kemudian melakukan pencarian barang bukti yang dibuang oleh pelaku di sekitar tempat kejadian perkara.

Kompol Hendra Eko Triyulianto menjelaskan setelah terjadi cekcok mulut kemudian Hendri menganiaya korban dengan membenturkan kepala korban ke dinding tembok rumah dan menikam leher korban dengan menggunakan pisau lalu menyayat pergelangan tangan korban sehingga korban meninggal dunia.

Kemudian Hendri memasukan jasad korban kedalam sejenis koper jenis kain, kemudian dibungkus kardus dilakban.

“Pelaku kemudian membawa bungkusan tersebut dengan menggunakan sepeda motor korban ke arah TKP di mana ditemukan sepeda motor dan jasad korban dan meninggalkan sepeda motor beserta bungkusan kardus yang berisi jasad korban. Hendri meninggalkan sepeda motor dan mayat dengan cara berjalan kaki ke arah jalan karya dan melemparkan helm korban ke pekarangan kosong milik warga seputran tempat kejadian perkara (TKP).

“Jadi pelaku ini meninggalkan sepeda motornya kemudian menyetop becak dan ia pulang ke rumahnya. Sekitar pukul 05.00 WIB, Hendri membawa bungkusan plastik hitam yang berisi baju, sandal lalu membuangnya ke Sungai Deli,” kata Kompol Hendra Eko Triyulianto

3. Duka Ibunda Korban

Ibu mana yang tega melihat anak yang dirawatnya sejak kecil dengan penuh kasih sayang dan cinta, harus tewas dengan cara mengenaskan ditangan orang yang tidak bertanggungjawab.

Hal itulah yang dialami oleh Sarina (47), ibu tiri dari Rika Karina (21) alias Huang Lisya korban pembunuhan yang pembunuhan keji yang terjadi pada Rabu (6/6/2018) sekitar pukul 02.00 WIB dinihari.

Rika ditemukan dalam keadaan mengenaskan, terbungkus dalam tas dan badannya seperti dilipat. Lalu dibungkus dalam kardus popok bayi dan diikat diatas sepeda motor Honda Scoopy dengan pelat nomor BK 5875 ABM yang terparkir di Jalan Karya Rakyat Gang Melati 1, tepatnya di samping gereja HKBP Ampera, Sei Agul.

Sehari setelah kepergian Rika, Sarina mengatakan bahwa semalam ia tidak bisa tidur sama sekali.

Hatinya terus dihantui rasa gelisah memikirkan anak perempuan yang sangat disayanginya tersebut.

Walaupun Rika bukan terlahir dari rahimnya, namun Sarina mengaku sangat menyayangi dan mencintai Rika yang sudah dirawatnya sejak kecil tersebut.

“Dari kemarin nggak bisa tidur ibu, gelisah terus mikirin Rika. Makan aja dua hari ini nggak tertelan terus, nggak ada rasanya makanan itu waktu ditelan,” kata Sarina, Kamis (7/6/2018).

“Saya heran kok bisa seperti itu Rika meninggal. Semua orang memang pasti meninggal akhirnya, tapi kenapa cara dia meninggal seperti itu. Mungkin kalau tidak nggak tawakal sama Allah, sudah bisa stres aku ini nangis terus,” ucapnya sambil menyeka air matanya.

Ditanya hal apa yang paling Sarina ingat dari anak tirinya Rika? perempuan berhidung mancung ini mengatakan Rika itu cukup sayang dan perhatian sama adik-adiknya.

“Dia sangat memperhatikan keluarga. Asal menelepon pasti selalu bertanya bagaimana keadaan keluarga, apa ada masalah, bertanya tentang adik-adiknya. Sangat baiklah anaknya,” kenang Sarina.

4. Aktivitas Korban

Orangtua mana yang sanggup melihat anak yang disayang, cintai dan dirawat sejak kecil, harus tewas meregang nyawa dengan cara mengenaskan dibunuh hingga beberapa tusukan benda tajam menghujam tubuhnya.

Hal itulah yang dialami korban Rika Karina (21) alias Huang Lisya, yang tewas bersimbah darah pada Rabu (6/6/2018) sekitar pukul 02.00 WIB dinihari. Rika ditemukan dalam keadaan mengenaskan, terbungkus dalam tas dan badannya seperti dilipat.

Lalu dibungkus dalam kardus popok bayi dan diikat diatas sepeda motor Honda Scoopy dengan pelat nomor BK 5875 ABM yang terparkir di Jalan Karya Rakyat Gang Melati 1, tepatnya di samping gereja HKBP Ampera, Sei Agul.

Ayah korban, Muhammad Suhari (54) saat mengingat tentang anaknya, mengatakan bahwa Rika selalu punya kebiasaan, yang selalu dilakukannya setelah menerima gaji bulanan dari tempatnya bekerja.

“Biasanya kalau setiap pulang kerja tanggal 27 tiap bulan setelah gajian, Rika pasti nginap di rumah selama 3 hari,” kata Suhari dirumah duka Jalan Tangguk Bongkar IX, Kamis (7/6/2018).

“Masuk hari keempat, biasa pagi langsung saya antarkan dia ke Amplas dan pulang naik angkot Morina 81 tujuan titi papan,” tambahnya.

Suhari menjelaskan bahwa anak perempuannya itu, sangat tertutup orangnya.

Kalau ada masalah cinta nggak pernah cerita sama sekali, kalaupun cerita paling sama ibunya, tapi bukan mengenai masalah pribadi.

Rika lebih banyak menghabiskan waktu bermain handphone.

Selain itu, semasa hidup Rika juga punya tempat favorit rekreasi, yaitu Pemandian air panas di Penen, di daerah Biru-Biru, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

“Kami biasa berangkat tiga sepeda motor, boncengan semua. Bawa makan untuk makan disana. Rika suka kali rekreasi kesana, kalau ada libur,” kenang Suhari.

5. Bermain Bersama Adik

Hal lain yang selalu tak lernah dilupakan Rika, tentu bermain bersama adiknya Muhammad Fazri (11). Setiap dia pulang kerja ke rumah pasti main game dan bercanda bersama adiknya. Sering dia terlihat main game bareng. Mereka itu akur kali, kalau adiknya nggak tahu cara bermain game biasanya langsung dikasih tahu Rika caranya.

“Dia sayang sekali sama adik-adiknya. Pernah dia bilang sama adiknya agar sekolah yang baik, nanti kakak berprestasi mau dibelikannya hp,” ujar Ayah korban, Muhammad Suhari (54).

Ditanya lebih jauh bagaimana perasaannya saat ini, setelah ditinggal anak perempuan kesayangan tersebut, Suhari sempat tertegun dan diam sejenak seperti tidak percaya semua ini terjadi begitu cepat.

“Nyesel kali memang, kalau saja dia sudah lepas kerja kemarin mungkin nggak akan begini. Tapi mau bilang gimana, bukan kehendak kita. Cuma pelaku kalau bisa dihukum sesuai hal yang dibuatnya sama anakku,” pungkas Suhari.

Facebook Comments