Dipicu Masalah Sepele, Bapak Ajak Dua Anaknya Bunuh Tetangga

Dipicu Masalah Sepele, Bapak Ajak Dua Anaknya Bunuh Tetangga

Selaluindah.com – Kupang – Aksi pembunuhan yang dilakukan oleh Stefanus Ora (48), warga Dusun III, Desa Nekmese, Amarasi Selatan, Kupang, NTT membuat heboh warga sekitar.

Didampingi dua anaknya, yaitu Kalvin Ora dan Gayon Ora, dia membunuh tetangganya, Kusnawi Bani pada Sabtu (9/6/2018).

Dilansir dari Kompas.com, Stefanus dan kedua anaknya membunuh Kusnawi dengan cara dicekik dan dibacok bagian lehernya.

Kasat reskrim Polres Kupang Iptu Simson L Amalo mengatakan kronologi kejadian bermula ketika Stefanus datang ke rumah Kepala Desa Nekmese Krisma Jems Baok.

Dia datang untuk meminta izin pembangunan rumah di sebidang tanah. Tanah tersebut sama-sama diklaim milik pelaku dan korban Kunawi. Kepala desa pun menolak memberikan izin pembangunan rumah karena tanah itu sedang bermasalah. Namun, pelaku kukuh ingin membangun rumah di tanah tersebut.

Pelaku pun pulang ke rumah dan kepala desa berangkat ke kantor desa. Setiba di rumah pelaku bersama dua anaknya menemui Kusnawi di belakang rumah korban.

Dia langsung marah-marah dan bertanya tentang tanah yang akan digunakan pelaku untuk membangun rumah bantuan dari pemerintah daerah Kabupaten Kupang.

Pelaku sempat mengambil sebatang kayu, tapi kemudian dibuangnya. Dia lalu mencekik leher korban. Kedua anak pelaku ikut membantu melakukan pemukulan terhadap korban berulang kali.

Pelaku lantas mengambil parang yang disisipkan di pinggangnya dan membacok leher serta wajah korban hingga korban tersungkur di tanah.

Selain itu, pelaku juga sempat membawa salah satu bagian tubuh korban yang terputus ke Kantor Desa Nekmese. Kepala Desa kemudian melapor ke Polres Kupang.

Setelah membunuh, Stefanus menyerahkan diri ke Markas Polsek Amarasi dan dua anaknya ditangkap di rumah mereka.

Ketiganya kini akan diproses secara hukum.

“Saat ini, tiga pelaku sudah diamankan di Rutan Polres Kupang untuk diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” katanya dikutip dari Kompas.com.

Facebook Comments